|
“….besok Rainy besar pasti jadi anak sukses….” Sepotong bait lagi itu terdengar dari seorang ibu yang mendendangkan lagu untuk anaknya yang mulai tertidur.
Semua orangtua pasti menginginkan anaknya menjadi anak yang sukses, tetapi sering kali orangtua sendiri tidak tahu apa makna sukses itu. Kalau anda sebagai orangtua, coba renungkan sejenak, apa makna sukses buat anda sendiri dan jawablah dengan sejujurnya di dalam hati. Apabila Anda bisa mendefinisikan sukses dengan mudah maka akan mudah juga Anda mengajarkan tentang kesuksesan kepada anak, tetapi kalau Anda tidak bisa mendefinisikan apa itu sukses buat Anda sendiri, bagaimana Anda akan mengajarkan arti kesuksesan pada anak Anda?
Sering kali orang yang tidak bisa mendefinisikan sukses karena biasanya dari kecil orang tersebut terpola untuk mengukur kesuksesan dari faktor eksternal, atau dari standard yang di tetapkan oleh lingkungannya bukan dari diri sendiri. Bahayanya adalah saat seseorang tidak bisa mengikuti standard kesuksesan yang di tetapkan lingkungan maka bisa jadi orang tersebut stress bahkan depresi. Misalnya kesuksesan yang dinilai dari kedudukan tertentu atau jumlah materi tertentu. Dan kalau sebagai orangtua seperti ini akan mengajarkan hal sama kepada anaknya baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebenarnya apa arti kesuksesan itu sendiri? Sebenarnya arti sukses setiap orang sangat unik dan individu, sukses bukan apa yang di capai tetapi sukses adalah menjadi pribadi seperti apa kita dalam pencapaian tersebut. Apakahseseorang bahagia saat proses pencapaian kesuksesannya? Apakah seseorang menjadi pribadi yang pemarah dan licik dalam proses kesuksesannya? Apakah seseorang menjadi orang yang depresi dalam dan saat mencapai kesuksesannya? Apakah seseorang menjadi orang yang di sukai oleh lingkungannya atau bahkan tidak pernah diinginkan berada di lingkungannya? Apakah orang yang menyesali hidupnya? Orang seperti apa nantinya anak kita? Bukankah itu lebih penting dari semua materi yang dicapainya? Sekarang bagaimana agar sebagai orangtua, bisa memberikan ’bekal’ yang tepat agar anak kita menjadi anak yang sukses dengan jalan hidupnya sendiri dan hidup dengan bahagia. Sekali lagi tidak cukup hanya pendidikan yang tinggi, dibalik semua itu lebih penting lagi bagaimana sebagai orangtua dapat menanamkan nila nilai kehidupan yang universal dan penting untuk membantunya dalam menjalani hidup. Apa saja nilai nilai kehidupan itu? Tentu saja yang terpenting adalah cinta kasih yang kemudian diikuti oleh aspek aspek positif lainnya seperti semangat, ketegaran, ketulusan dan kejujuran. Semua itu bisa terjadi pada anak, apabila anak memiliki harga diri yang sehat. Apa itu harga diri? Apakah sama dengan percaya diri? Tentu saja tidak sama, saat anak memiliki harga diri yang sehat, otomatis anak akan percaya diri. Harga diri adalah pondasi sukses seseorang. Dengan harga diri yang sehat seseorang bisa mengaktualisasikan diri dengan baik dan maksimal. Harga diri yang sehat membuat seseorang bisa mencapai sukses dengan cara yang benar dan menikmati setiap proses yang dijalani dan memandang dunia sebagai tempat yang menyenangkan. Jadi apa itu harga diri? Harga diri mempunyai kaitan yang erat dengan diri ideal dan gambaran diri seorang anak. Biasanya diri ideal seorang anak dibentuk oleh orangtua, contohnya anak yang hebat adalah anak yang selalu mendapatkan nilai 100.Jadi diri ideal anak sesuai harapan orangtuanya yaitu anak hebat selalu mendapat nilai 100. Apabila dalam kenyataannya anak sering mendapatkan nilai 100, maka anak tersebut akan memiliki gambaran diri yang sesuai dengan diri idealnya dan otomatis akan memiliki harga diri yang sehat. Tetapi saat anak tidak bisa mencapai nilai 100 bahkan nilainya selalu jelek, gambaran diri anak tersebut akan jauh dari diri idealnya yang otomatis juga akan membuat harga dirinya jelek, karena gambaran dirinya jauh dari diri ideal yang diharapkan. Saat harga diri seorang anak tidak sehat atau jelek otomatis rasa minder, perasaan tidak berharga, tidak layak, bukan anak yang hebat mengikutinya, yang berdampak pada perilaku yang tidak diharapkan, mulai dari suka berbohong, suka membantah, suka berkelahi, menjadi sombong atau pendiam atau bahkan tidak mau sekolah dan membenci kata ’belajar’. Para Orangtua, apakah anda sudah membantu anak untuk mandapatkan harga diri yang sehat? Apakah diri ideal yang Anda berikan kepada anak memang masuk akal bagi anak Anda? Apakah diri ideal yang Anda harapkan sesuai dengan kepribadian dan karakter anak Anda? Bagaimana gambaran diri anak Anda saat ini? Luangkanlah waktu untuk mengamati anak dan merenungkan kembali apa yang sudah dilakukan dan apa yang sebaiknya dilakukan untuk selanjutnya. Selamat menjalankan tugas mulia sebagai orangtua . By Ely Susanti - www.sekolahorangtua.com |