|
Membutuhkan Skill Centre agar Kelak Mandiri
SEKOLAH luar biasa (SLB) selama ini menjadi jujukan bagi anak berkebutuhan khusus. Namun, beragam jenis SLB yang ada tidak sesuai dengan kebutuhan anak autis.
Fred Vrugteveen, pakar pendidikan anak berkebutuhan khusus dari Belanda, menjelaskan kurikulum SLB. SLB A ditujukan tunanetra, SLB B untuk tunarungu, sedangkan SLB C untuk anak Down syndrome dan retardasi mental. Banyak orang tua dan guru beranggapan, anak autis bisa digabungkan dalam SLB C. ''Anak autis masih memiliki kecerdasan. Kemampuannya itu bisa dimaksimalkan dengan pendidikan dan pelatihan keterampilan,'' tegas pendiri sekolah lanjutan Autis Fredofois di Jogjakarta itu.
Fred menambahkan, setiap anak terlahir dengan bakat dan minat tertentu. Termasuk, anak autis. Bedanya, skala anak autis di bawah normal, namun masih di atas anak Down syndrome dan retardasi mental. Pola pendidikan anak autis, menurut dia, seharusnya mengacu skill centre. Lokasi itu menggabungkan pilar pendidikan, magang, dan kerja. Artinya, pendidikan yang diberikan khusus diorientasikan pada bakat anak autis. Harapannya, anak memungkinkan diberdayakan hingga mampu bekerja. ''Di Belanda, konsep ini dimulai sejak 90-an,'' jelasnya.
Dalam praktiknya, skill centre meminimalkan pengajaran akademik dan memperbanyak praktik. ''Kemandirian anak autis bisa dibentuk dengan mengerjakan satu hal yang sama berulang-ulang. Pengulangan inilah yang akan direkam dalam memori mereka,'' jelasnya.
Pendidikan di skill centre bisa dimulai pada anak autis usia 12 tahun. Lamanya pendidikan tak bisa disamakan dengan anak normal yang dibatasi tahun. Karena tujuannya mencapai kemandirian, pendidikan berakhir saat anak autis benar-benar mandiri. Waktunya sekitar lima hingga sepuluh tahun.
Kesiapan tenaga pendidik skill centre berbeda dengan tenaga pendidik SLB. Selain kesabaran, guru harus peka melihat potensi dan bakat yang dimiliki anak autis. Hasil pengamatan itulah yang menjadi dasar pendidikan keterampilan. ''Tak semua keterampilan diajarkan. Pilihannya berdasar hasil pengamatan orang tua dan guru,'' ujar pria yang tinggal di Indonesia sejak 1994 tersebut.
Penerimaan dan dukungan orang tua berperan penting dalam melatih kemandirian anak. Orang tua sering tidak bisa menerima kenyataan bahwa anaknya berkebutuhan khusus. Mereka memaksakan si kecil mengenyam pendidikan akademis di sekolah umum. Akibatnya, anak autis justru semakin stres. Ada kalanya, orang tua tidak peduli pada pendidikan anaknya yang berkebutuhan khusus. ''Maaf ya, beberapa orang tua memasukkan anak autis ke sekolah sebagai bentuk lepas tanggung jawab. Mereka merasa lepas beban jika anak sudah berada di sekolah,'' kata penasihat SLB Khusus Anak Autis dan Hiperaktif Aditama Surabaya tersebut.
Padahal, tanpa dukungan orang tua, guru akan kesulitan memonitor bakat yang dimiliki si mungil. Terbatasnya waktu belajar di sekolah menjadi kendala tersendiri. ''Jika bakatnya tidak segera ditemukan, pendidikan keterampilan belum bisa fokus,'' jelasnya.
Karena itu, komunikasi orang tua dan guru perlu terjaga. Kerja sama itu, kata Fred, berbuah manis. Salah seorang murid autis Fred di Jogja, misalnya, mampu melukis yang terjual dengan harga puluhan juta rupiah.
Nah, pendidikan keterampilan didapat. Selesaikah tugas orang tua? Anak yang beranjak dewasa itu membutuhkan magang dan kerja. Memang di Indonesia, anak autis belum mendapat tempat untuk magang dan bekerja. Skill centre seyogianya membuat tempat magang dan kerja secara swadaya. ''Jika anak autis membuktikan mereka bisa bekerja, kepercayaan lingkungan mempekerjakan mereka akan tumbuh,'' harapnya. (uji/nda) Sumber : Harian Pagi Jawa Pos |