|
SURABAYA - Kualitas sebagian besar guru dan kepala sekolah (kasek) jenjang SDN di kota ini masih minim. Untuk mendongkrak mutu mereka, Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya berjanji secara intensif melaksanakan pelatihan dengan menggandeng perguruan tinggi.
Kepala Dispendik Sahudi mengatakan, rata-rata kemampuan analisis mereka masih kurang. Akibatnya, saat harus menerapkan kebijakan, mereka kurang bisa berinovasi. "Mereka tidak mampu menganalisis kebijakan. Hanya menerapkannya. Jadi, mereka mudah dipengaruhi pihak lain," katanya.
Mantan kepala SMAN 15 itu menduga, salah satu penyebabnya adalah latar belakang pendidikan. "Kebanyakan kan lulusan SPG (sekolah pendidikan guru) baru dilanjutkan kuliah. Berbeda dengan mereka yang kuliah sejak awal yang sudah terbiasa menganalisis," jelasnya.
Kemungkinan lain, lanjut Sahudi, objek yang mereka tangani. "Mereka hanya bertemu anak-anak SD yang mudah diatur. Jadi, tidak tertantang untuk menciptakan inovasi. Berbeda dengan mereka yang bertemu anak SMP atau SMA yang mulai kritis," katanya.
Kurangnya kemampuan menganalisis itulah yang ditengarai menjadi penyebab banyaknya guru SDN yang bermasalah. Dalam tiga bulan terakhir saja, sudah ada tujuh kasek yang bermasalah. Mereka adalah kepala SDN Kalisari II, SDN Ketintang I dan III, SDN Manukan Kulon V, SDN Kalirungkut II, SDN Tembok Dukuh, dan SDN Gununganyar Tambak.
Karena itu, Dispendik berusaha meningkatkan kemampuan mereka dengan memberikan pelatihan. Salah satunya adalah continuous education. Para guru SD juga diikutkan dalam pelatihan tersebut. "Bulan depan ada 3.000 guru yang kami latih pendalaman materi bekerja sama dengan Unesa. Terus 3.000 lain belajar metode pembelajaran di Unair,'' ungkapnya.
''Saat ini mereka memang guru, tapi tidak menutup kemungkinan nanti menjadi kepala sekolah," lanjutnya.(any/hud) Sumber : Harian Pagi Jawa Pos |