|
|
|
JURUS JITU ATASI RASA BOSAN PADA ANAK |
|
|
Friday, 27 June 2008 |
|
“Anak-anak adalah mahluk yang senantiasa ceria dan bersemangat . mereka antusias menemukan hal-hal baru. Anak-anak juga gemar melakukan suatu kegiatan berulang-ulang untuk mempelajari proses”.
Akan tetapi, dalam kegiatan itu ada kalanya anak-anak dihinggapi rasa bosan. Mereka jadi enggan melakukan eksplorasi, rasa ingin tahunya seakan padam. Bagaimana mengatasinya? Satu hal yang perlu diketahui, rasa bosan adalah reaksi normal manusia pada umumnya yang muncul pada saat melakukan kegiatan secara monoton. Dan itu bisa terjadi pada siapa saja, baik orang dewasa, remaja maupun anak-anak. Memang tak semua orang mudah merasa bosan. Sebab, adapula yang memiliki ambang batas kejenuhan dan kebosanan yang cukup tinggi. Tentu inilah yang membedakan cara mengatasi jika bosan datang, terutama bila terjadi pada balita.
Saat ini manusia modern mengisi sebagian besar waktunya dengan kesibukan dan kerja. Dengan pola pendidikan masa kini, anak terbiasa disibukkan berbagai stimulasi, baik oleh linkungan maupun orang tua atau pengasuh. Padahal , anak tak selalu harus sibuk. Orang tua juga perlu mempertimbangkan agar si kecil beristirahat sejenak dari segala kegiatanya. Menurut Hans Grothe, psikolog dan kontributor tetap majalah Eltern di Jerman, rasa bosan penting dalam kesehatan mental. Rasa bosan dapat dianalogikan sebagai sebuah ‘sistem alarm’ pemberi tanda bahaya. “Kondisi itu berfungsi untuk memberitahu yang bersangkutan bahwa dirinya butuh break sejenak,” katanya. Jika ini berkenaan dengan anak-anak, rasa bosannya bermanfaat bagi orang tua atau pengasuh . Sedikit ketidak aktifan menurut berbagai studi, berguna untuk mengistirahatkan motor penggerak tubuh si kecil, yang sehari-hari tiada henti berekplorasi. Momen tanpa kegiatan , penting bagi balita .” Namun jangan biarkan si pembosan menikmati’diam’ dengan hanya menontin TV” sarannya. Sejak bayi, rasa bosan dapat tiba-tiba datang dan mengganggu keceriaan. Pada bayi, rasa bosan muncul dalam bentuk kerewelan dan tangisan. Apabila tidak teratasi , rasa bosan dapat berubah menjadi frustasi. Bayi bosan terutama jika tak mampu meraih sesuatu atau tak dapat membuat orang lain memahami apa keinginannya. Sebuah studi di Jerman menunjukkan, hampir semua bayi pernah mengalami kebosanan, mayoritas mengalami kebosanan yang kronis. Mengahadapi rasa bosan bayi, orang tua perlu cepat bereaksi. Jika terlalu responsive menanggapi tangisannya , salah-salah ia menangap bahwa kesepian, kesendirian, dan rasa bosan adalah sesuatu yang menakutkan, sesuatu yang seharusnya tak menimpa siapa pun. Dengan begitu, bisa jadi, ia terbiasa menyerukan satu teriakan dan bantuan agar segera ada di depan matanya. Grothe menyarankan orang tua untuk melakukan cek dan ricek “Tengoklah secara diam-diam ke kamarnya untuk memastikan apakah si kecil baik-baik saja,” sarannya. Sebab, bisa saja anak berteriak hanya untuk mencari perhatian. Tetapi orang tua tak perlu ragu untuk segera memberi uluran tangan, apabila ia benar-benar membutuhkan. Pada balita, orang tua dapat melibatkan anak untuk turut mencari jalan keluar. Anda dapat mengajarkan si balita mengenali sinyal yang diberikan oleh ‘sistem alarm’ tadi. Anak-anak pembosan memiliki ‘sistem alarm’ yang sangat peka. Oleh karenanya , mereka kerap menerima ‘tanda bahaya’ setiap ada stimulan yang dapat memicu rasa bosan. Untuk itu, balita perlu diajarkan cara bereaksi , apabila menerima tanda bahaya. Apabila anak Anda adalah anak yang mudah bosan , Anda perlu mengajarkan bahwa dalam setiap kegiatan terdapat sebuah kesenangan tersendiri. Selain itu penting bagi orang tua untuk menyadarkan anak bahwa kesenangan akan lebih besar diperolehnya jika kegiatan yang dilakukannya dirancang dan diciptakannya sendiri. Sumber : Surabaya Pos , Minggu 22 Juli 2007 |
|
|